Get Adobe Flash player
Pusat Belanja Online Kabupaten Semarang - http://www.belanjasemarang.co.id

PROFIL INDUSTRI KABUPATEN SEMARANG

Perkembangan Kinerja Industri

Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, meskipun kegiatan pembangunan tersebut telah mencapai tingkat pertumbuhan yang tinggi, ternyata juga menimbulkan kesenjangan pendapatan di dalam masyarakat mengingat pelaksanaan pembangunan, serta yang menikmati hasil-hasilnya sebagian besar masih terfokus pada beberapa kelompok masyarakat tertentu (pemilik modal). Sementara dampak hasil pembangunan yang mengalir kepada sebagian besar anggota masyarakat lainnya masih sangat terbatas.

 

Struktur Industri

Struktur industri terdiri dari cabang industri yang menurut skala investasi menengah dan besar adalah : Industri pertenunan (44,64%), Industri Pakaian jadi dari tekstil (16,92%), Industri moulding dan komponen bahan bangunan (14,59 %), Industri furniture dari kayu (11,86%), dan industri minuman (7,09%), industri tersebut memberikan efek berganda (keterkaitan) dengan usaha kecil

Pada Skala industri kecil : Industri makanan (24,87%), Bahan bangunan (16,04%), meubel (11,25%) dan minuman (4,89%)

Penciptaan Lapangan Kerja.

Sementara itu bila ditinjau dari jumlah perusahaan dan skala usaha industri sebagian besar adalah unit usaha dengan skala industri kecil menengah. Faktor ini mencerminkan bahwa sektor industri cukup berperan dalam penciptaan lapangan kerja yaitu mampu menciptakan kesempatan kerja sebesar 74.412 orang. Tenaga kerja pada industri kecil sendiri sebesar 23.115 orang.

Kondisi Perindustrian Perkembangan usaha industri di Kabupaten Semarang.

Total Investasi pada Skala menengah dan besar mencapai Rp.6.545.998.100.000,- dan 63,508,704.40 US $ dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 71.506 orang, sedangkan pada industri kecil Formal 1.341 unit usaha dan tenaga kerja 10.918 orang Industri Rumah Tangga 9.405 unit usaha dengan jumlah tenaga kerja 16.804 orang .
Industri secara keseluruhan meningkat baik jumlah unit usaha, tenaga kerja maupun nilai produksi. Jumlah industri menengah besar tahun 2009 menjadi 166 unit usaha diharapkan akan menjadi pemicu tumbuhnya sektor industri kecil sampai dengan tahun.

Aspek Bahan Baku.

Bahan baku pada umumnya mudah diperoleh dari dalam negeri, walaupun ada yang harus diimpor yaitu bahan baku untuk produk tekstil (+ 35 %) dan produk alas kaki (+ 40%). Sedangkan untuk produk lainnya diperoleh dari dalam negeri. Kenaikan harga bahan baku untuk industri pada umumnya tidak begitu berpengaruh pada ketersediaan bahan baku dipasar sehingga produksi dan omzet penjualan relatif stabil. Pada umumnya kualitas bahan baku untuk produksi sudah dipersyaraatkan mutunya.

Aspek Produksi.

Hampir semua industri menengah dan besar menerapkan quality control mulai dari bahan baku sampai produk akhir yang dilakukan secara mandiri oleh perusahaan masing masing. Usia pakai mesin produksi diperusahaan logam , barang dari kulit, tekstil dan pakaian jadi rata 5-10 tahun. Mesin dan peralatan yang sudah cukup tua tersebut masih dapat digunakan karena suku cadang mesin dan peralatan tersebut cukup tersedia didalam negeri, kecuali untuk komponen tertentu yang masih harus didatangkan dalam dari luar negeri.
Mengingat usia mesin yang sudah cukup tua tersebut perlu diadakan restrukturisasi mesin mesin. Terhadap suku cadang yang harus diimpor bila terjadi kerusakan pada komponen yang sudah aus, perawatan serta perbaikannya membutuhkan waktu lama dengan biaya yang relatif lebih mahal dibanding dengan suku cadang yang tersedia dipasar dalam negeri.

Aspek Pemasaran.

Kinerja ekspor industri non-migas setelah krisis perkembangannya menunjukkan kecenderungan meningkat, walaupun tidak sebesar pada masa sebelum krisis. Apabila dilihat dari komposisi ekspor bukan migas ternyata komposisinya terlalu didominasi oleh Industri Pertenunan (58,.97 %), Pakaian Jadi (12,13 %), serta Industri Kemasan Plastik (8,97 %).
Makna kondisi tersebut adalah bahwa ekspor non-migas belum bergantung pada industri yang menggunakan sumber daya alam, namun lebih pada industri yang padat karya dan padat modal (seperti Tekstil dan Produk Tekstil dan Industri barang dari plastik),. kondisi ini harus diwaspadai mengingat agresifnya negara-negara ASEAN memperbaiki daya saing industrinya akhir-akhir ini.

 

Persebaran Lokasi dan Konsentrasi Pertumbuhan Industri.

Ditinjau dari persebaran wilayahnya pada tahun 2007, Industri menengah besar terkonsentrasi di wilayah Kecamatan Ungaran Barat (14.01 %), Ungaran Timur (9.55 %), Bergas (40.13 %), Pringapus (10.83 %),Bawen (14.01%), dan Tengaran (6.37 %). Sedangkan industri kecil hampir menyebar di seluruh kecamatan kecuali di Bandungan, Suruh, Kaliwungu dan Bancak yang jumlahnya relatif lebih kecil dibandingkan dengan wilayah lainnya. Lokasi sangat berpengaruh terdadap keterkaitan kerja sama antar industri besar, menengah dan kecil.

Unit usaha industri menciptakan kesejahteraan melalui nilai tambah produk - produk yang dihasilkan sekaligus mendistribusikannya kemasyarakat melalui pendapatan tenaga kerjanya.Oleh karena itu distribusi dari sektor industri ini juga mencerminkan distribusi pendapatan yang terbentuk. Menurut data tahun 2007 Industri besar menengah terpusat di Kecamatan Bergas, Ungaran Barat, Ungaran Timur, Bawen dan Pringapus.
Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa kecamatan-kecamatan dengan kontribusi sektor industri tinggi terjadi di kecamatan Bawen, Pringapus, Bergas dan Ungaran dimana sektor industri memberikan lebih dari 40 % terhadap total PDRB kecamatan. Sedang kecamatan dengan kontribusi dibawah 20 % adalah Kecamatan Getasan, Kaliwungu, Suruh, tuntang, Banyubiru, Sumowono dan Ambarawa. Berdasarkan data tabel I.2. dapat dilihat bahwa besarnya sumbangan sektor Industri terhadap total PDRB lebih didominasi oleh Industri besar yang antara lain dapat dilihat dari besarnya nilai produk yang diekspor dibandingkan dengan nilai produksi dari industri kecil yang melapor hanya 0,39 % pada tahun 2004 dan 0,31 % pada tahun 2005.

 

Daftar Harga Bahan Kebutuhan Pokok (update tanggal 15 Mei 2016 ) : 1. Beras : C4 Super Rp. 11.000,-/kg ; C4 Biasa Rp. 10.500,-/kg 2. Gula Pasir (Kw. Medium) : Rp. 14.500,-/kg 3. Minyak Goreng : Bimoli Refill : Rp. 13.000,-/ltr ; Minyak Sayur : Rp. 12.000,-/ltr 4. Daging : Sapi Murni : Rp. 110.000,-/kg ; Ayam Broiler : Rp. 28.000,-/kg ; Ayam Kampung : Rp. 55.000,-/kg