GEPLAK WALUH BU NANIK

Labu kuning atau masyarakat sekitaranya Kabupaten Semarang menyebutnya “waluh”, kerap terlihat dijajakan di pinggir jalan raya Jl. Raya Satiga – Kopeng. Waluh dijual begitu saja, karena petani tidak mampu mengolahnya menjadi kreasi makanan lain. Akibatnya, hasil panen waluh seringkali hanya teronggok di pinggir jalan sampai akhirnya hanya menjadi makanan ternak.

Product Description

Labu kuning atau masyarakat sekitaranya Kabupaten Semarang menyebutnya “waluh”, kerap terlihat dijajakan di pinggir jalan raya Jl. Raya Satiga – Kopeng. Waluh dijual begitu saja, karena petani tidak mampu mengolahnya menjadi kreasi makanan lain. Akibatnya, hasil panen waluh seringkali hanya teronggok di pinggir jalan sampai akhirnya hanya menjadi makanan ternak.

Teknologi Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro 2003. Piala terbaik III pengerhargaan pengembangan keutuhan pangan untuk kelompok Masyarakat PKK tingkat Propinsi Jawa Tengah  2006, pengusaha mikro terbaik ajang Citigroup Microentrepreneurship Award 2006.

Berawal  dari keprhatinan kurangnya kemanfaatan panen waluh di daerah itulah pasangan Bp. Slamet dan Ibu Nanik lantas mengolah waluh menjadi aneka panganan.

Jadilah produksi olahan waluh berupa geplak, pia, stik, emping, egg roll, kwaci gelek, wingko, hingga sirup waluh.

Inovasi mengolah waluh ini akhirnya mendapatkan berbagai penghargaan. Diantaranya adalah : Juara 3 lomba Komersialisasi Inovasi Teknologi Pergguruan Tinggi oleh pusat penelitian dan pengembangan

Makanan kecil berbahan waluh ini banyak di pasarkan disekitar kabupaten Semarang, Salatiga dan Semarang.

Pelanggan kerap membelinya sebagai primadona oleh oleh khas Getasan.

error: Content is protected !!